Selasa, 23 Agustus 2011

PERAYAAN HUT RI KE-66 HEBOH dan MENARIK DESA JULUK SARONGGI SUMENEP


          Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-66 di Desa Juluk Kecamatan Saronggi berjalan sangat meriah sekali, KIM Suka Maju bekerjasama dengan kepala Desa Juluk TAUFIK RAHMAN beserta jajarannya mengadakan bermacam kegiatan menjelang HUT RI yang ke-66, yaitu mengadakan perlombaan antar RT se-Desa Juluk, Jalan-jalan Santai, dan diakhiri dengan Upacara Bendera HUT RI yang ke-66 di Lapangan PERSIJ Juluk.
Kegiatan perlombaan dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2011 sampai 30 Agustus 2011, kegiatan tersebut dibuka oleh Bapak Camat Saronggi yang diwakili oleh Sekcam Saronggi, tujuan kegiatan ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Kepala Desa Juluk Bapak TAUFIK RAMHAN dalam sambuatannya, yaitu menumbuhkan rasa cinta tanah air dan mengeratkan tali persaudaraan terutama masyarakatn Juluk, dan juga mengaktifkan kembali kegiatan masyarakat yang sudah hilang, kegiatan tersebut dikuti  oleh semua elemen masyarakat di Desa Juluk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, dari anak-anak, remaja, dan orang tua memiliki kesempatan untuk mengikuti cabang lomba sesuai ketentuannya.
Diantara macam-macam lomba yang dilakukan adalah Bolavoli mini dan sepakbola mini, Bola tangkap (balbudih) untuk remaja dan orang dewasa, lari karung untuk anak-anak putra dan putri, lomba memasak untuk ibu-ibu, dan juga yang paling menarik perhatian masyarakat adalah tarik tambang untuk orang dewasa.
 Jalan-jalan sehat (JJS) diadakan pada hari minggu pagi, agar tidak mengganggu kegiatan sekolah dan kantor, JJS di ikuti seluruh masyarakat Juluk dari segala elemen yang ada di dalamnya, mulai dari DPD, ORMAS, Lembaga Pendidikan dan Juga tokoh-tokoh masyarakat serta TNI dan Polri, kegiatan ini juga diikuti oleh masyarakat Desa lain seperti Desa Talang, Desa Saronggi, Aengtong-tong, dan beberapa Desa lain se Kecamatan Saronggi.
Serangkaian acara tersebut kurang lebih selama satu bulan ful, kemudian diakhiri dengan malam pentas seni yaitu Orkes Dangdut, Dramband, Saronin, dan pertunjukan Kuda serta pemberian hadiah bagi pemenang lomba-lomba. Setelah itu dilanjutkan dengan nonton bareng Lodrok Rukun Karya.



UPACARA HUT RI ke-66 Desa Juluk Unik dan Menarik

Peseta Upacara HUT RI ke-66 dari masyarakat Umum berbaris rapi mengikuti upacara
Pengibaran Bendera Merah Putih

Kepala Desa Juluk Menyapa Masyarakat dengan mengendarai Kuda dan diiringi oleh kesenian saronen
Juluk 17 Agustus 2011,
             Upacara Bendera dalam rangka HUT RI yang ke-66 di Desa Juluk berjalan lancar, upacara yang diadakan di lapangan PERSIJ Desa Juluk itu tergolong Unik dan Menarik. peserta upacara terdiri dari Perangkat Desa Juluk , LINMAS, Guru, Murid, dan Juga Masyarakat Umum.
             Uniknya masyarakat yang menikuti upacara tersebut menggunakan pakaian sederhana yang dipakai sehari-hari, yang tak kalah uniknya lagi, sebagian masyarakat menggunakan pakaian keseharian mereka dalam bertani bahkan juga membawa alat pertaniannya seperti cangkul dll.
             Masyarakat antusian sekali dalam mengikuti acara tersebut, mereka berbaris rapi dan mengikuti serangkaian uapara dari awal sampai terakhir. kegiatan tersebut diakhiri dengan pertunjukan saronin yang merupakan kesenian yang banyak disukai oleh masyarakat Desa Juluk.
             Kepala Desa Juluk Bapak Taufik Rahman berkata dalam sambutannya " saya sengaja mengadakan kegiatan ini karena saya ingin masyarakat juluk tidak hanya sibuk dalam bekerja sehari-hari, tetapi juga mempunyai kegaiatan sosial nasionalisme, saya berharap kegiatan ini bisa memberikan semangat baru bagi masyarakat dalam bekerja dan beraktifitas sehari-hari", ujarnya.

Kamis, 04 Agustus 2011

PENDIDIKAN BERKARAKTER

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Pada intinya perdidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlakmulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang se muanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Sedangkan fungsi pendidikan karakter adalah (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur; (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha dan media masa.

Nilai-nilai Pembentuk Karakter

Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter.

Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU.

Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia.

Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character(pendidikan tanpa karakter).

Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education(Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya).

Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society(Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)..

Selasa, 12 Juli 2011

Belajar Dari Lingkungan dan Keadaan

Kerusakan lingkungan menjadi persoalan paling menegangkan akhir-akhir ini. Lingkungan sekitar yang dulunya bersahabat dan tak membuat ricuh kenyamanan hidup manusia telah berubah menjadi musuh yang mengganggu dan bahkan merenggut nyawa manusia. Pelbagai bencana dari tahun ke tahun, mulai dari tsunami, longsor, luapan lumpur Lapindo, banjir dan pelbagai bencana alam lainnya. Hanya saja konsekwensi ini belum menjadi pelajaran berharga untuk memberbaiki pola intraksi antar manusia dan lingkungan secara lebih etis. Sudah jelas dibalik bencana-bencana yang selama ini mengguyur masyarakat Indonesia tak lepas dari kegagalan manusia dalam berintraksi dengan alam. Pola intraksi yang menjadikan lingkungan sebagai subyek yang harus ditaklukkan dan manusia sebagai subyek penakluk menjadi paradigma masyarakat kebanyakan.
Dominasi pandangan antroposentrisme, menempatkan manusia di atas alam, telah menjadikan manusia sangat berkuasa yang bisa melakukan apa saja demi kepuasan sesua dengan kapasitasnya. Kalau ia menjadi pengusaha maka ia akan mengekplorasi alam sesua dengan kepentingan bisnisnya, dan kalau ia menjadi penguasa akan menggulirkan kebijakan yang kurang menguntungkan bagi keseimbangan alam tak jauh beda juga dengan masyarakat. Jadi pada prinsipnya krisis ekologis yang selama ini terjadi akar pesoalannya terletak pada bangunan struktur nilai hidup manusia yang timpang dalam memandang dan berintraksi dengan alam Keseimbangan alam pun seakan sudah berada diambang pintu. Menurut laporan FAO (Badan Pangan Dunia), Indonesia menghancurkan hutan kira-kira 51 kilometer persegi setiap hari. Artinya kira-kira seluas 300 lapangan sepak bola yang hancur setiap Jam yang rusak karena penebangan hutan yang tidak terkendali. Tak heran kalau kemudian KOMPAS, 4 Mei 2007 berdasarkan data FAO dalam kurun waktu 2000-2005 menurunkan tulisan berjudul “Indonesia masuk “rekor Dunia’; tercatat sebagai negara penghancur hutan tercepat di Dunia.

Padahal upaya mencegah tindakan serakah dan tamak itu kerap dikumadangkan dan di khutbahkan di pelbagai mimbar dan masjid. Pemerintah dengan nalar hukumnya telah menegaskan ihwal hukuman berat bagi mereka yang dengan sengaja merusak lingkungan. Akhir-akhir ini juga muncul wacana ihwal fiqh lingkungan hidup.usaha itu secara heroik diteriakkan hanya merubah paradigma dan prilaku masyarakat demi kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup.
Hanya saja usaha itu belum sepenuhnya berubah paradigma dan pola masyarakat secara sublim. Pelbagai upaya yang selama ini dilakukan masih sebatas hukum formal yang belum menyentuh secara rill dengan kesadaran. Sebut saja Fiqh lingkungan hidup yang selama ini dikumandangkan oleh banyak kalanagan ahli Fiqh. Yang menjadi acuan utama ketika berbicara Fiqh adalah halal dan haram yang sanag formal dan kaku tanpa banyak menyentuh ranah kesadaran.

Maka kerusakan lingkuangan yang kian hari kian parah membutuhkan tumbuhnya kesadaran semua pihak untuk bahu membahu mengatasinya. Permasalahan lingkungan tidah hanya butuh ketegasan hukum dan kesigapan pemerintah, peran pendidikan untuk menumbuhkan paradigma peserta didik yang berwawasan lingkungan menjadi program jangka panjang yang sangat vital dalam menopang masa depan ummat manusia. Karena persoalan kerusakan lingkungan banyak disebabkan oleh cara pandang dan paradigma yang salah terhadap lingkungan. Mereka tidak sadar ihwal posisi dirinya dan lingkungan. Maka tumbuhnya kesadaran kolektif ihwal peran lingkungan hidup dalam menopang masa depan adalah kunci awal untuk memulihkan prilaku-prilaku eksploitatif terhadap lingkungan.
Pendidikan sangat dituntut perannya untuk melahirkan manusia-manusia yang mempunyai kesadaran lingkungan. Pendidikan harus progresif dan respek terhadap dinamika perkembangan zaman. Dulu sebelum Indonesia merdeka pendidikan berperan dalam mengeluarkan Indonesia dari jeratan kolonialisme dengan gaya menghadapi pendidikan kolonial yang menindas, maka saat ini, setelah penjajahan kolonial bubar dan beralih terhadap persoalan-persoalan baru, termasuk persoalan lingkungan, pendidikan juga dituntut untuk merespon persoalan-persoalan realitas sosial. Realitas terjadinya ketidakseimbangan eksosistem yang merupakan bagian dari ketidakbecusannya manusia berintraksi dengan lingkungan secara tidak langsung telah mendesak pendidikan kita untuk menjadikan lingkungan sebagai bagian dari bahan ajar pendidikan kita. Dengan demikian, pendidikan Islam berwawasan lingkungan adalah satu agenda mendesak untuk lebih ditindak lanjuti, baik secara konseptual maupun secara praksis dalam konteks pendidikan di Indonesia.

Sabtu, 07 Mei 2011

METODE TANAM SRI (System Of Rice Intensification)

SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara
mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan
produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%.
Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983 -84 oleh
Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama
petani-petani di sana. Oleh penemunya, metododologi ini selanjutnya dalam bahasa Prancis
dinamakan Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Dalam bahasa Inggris populer dengan
nama System of Rice Intensification disingkat SRI.
Tahun 1990 dibentuk Association Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy untuk memperkenalkan
SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agriculture and Development
(CIIFAD), mulai bekerja sama dengan Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana
National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for International Development. SRI
telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka, dan Bangladesh dengan hasil yang positif.
SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD). Pada tahun
1987, Uphoff mengadakan presentase SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI
dilaksanakan di luar Madagaskar
Hasil metode SRI sangat memuaskan. Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi
normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha,
beberapa petani memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Metode SRI
minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya
saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen.
Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan
diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua unsur potensi dalam tanaman padi
dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.

Prinsip-prinsip budidaya padi organik metode SRI
  1. Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) ketika bibit masih berdaun 2 helai.
  2. Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang
  3. Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
  4. Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
  5. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari 
  6. Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik (kompos atau pupuk hijau)
Keunggulan metode SRI
  1. Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak ( Irigasi terputus)
  2. Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang dll. 
  3. Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 - 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
  4. Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
  5. Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan Mikro-oragisme Lokal), begitu juga penggunaan pestisida.
Manfaat Metode SRI
Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut
  1. Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional
  2. memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah
  3. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. 
  4. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka membuka lapangan kerja dipedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani
  5. menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia
  6. mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang
Teknik Budidaya Padi Organik metode SRI
  • Persiapan benih
Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk
menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung.
Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut.
Kemudian benih telah diuji direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan
dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organik (1:1) di
dalam wadah segi empat ukuran 20 x 20 cm (pipiti). Selama 7 hari. Setelah umur 7-10 hari
benih padi sudah siap ditanam
  • Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah Untuk Tanam padi metode SRI tidak berbeda dengan cara pengolahan
tanah untuk tanam padi cara konvesional yaitu dilakukan untuk mendapatkan struktur tanah
yang lebih baik bagi tanaman, terhidar dari gulma. Pengolahan dilakukan dua minggu
sebelum tanam dengan menggunakan traktor tangan, sampai terbentuk struktur lumpur.
Permukaan tanah diratakan untuk mempermudah mengontrol dan mengendalikan air.

  • Perlakuan pemupukan
Pemberian pupuk pada SRI diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan
unsur hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan. Kebutuhan pupuk organik pertama
setelah menggunakan sistem konvensional adalah 10 ton per hektar dan dapat diberikan
sampai 2 musim taman. Setelah kelihatan kondisi tanah membaik maka pupuk organik bisa
berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organik dilakukan pada tahap
pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.

  • Pemeliharaan
Sistem tanam metode SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus menerus, cukup
dengan kondisi tanah yang basah. Penggenangan dilakukan hanya untuk mempermudah
pemeliharan. Pada prakteknya pengelolaan air pada sistem padi organik dapat dilakukan sebagai berikut; pada umur 1-10 HST tanaman padi digenangi dengan ketinggian air ratarata
1cm, kemudian pada umur 10 hari dilakukan penyiangan. Setelah dilakukan penyiangan
tanaman tidak digenangi. Untuk perlakuan yang masih membutuhkan penyiangan
berikutnya, maka dua hari menjelang penyiangan tanaman digenang. Pada saat tanaman
berbunga, tanaman digenang dan setelah padi matang susu tanaman tidak digenangi kembali
sampai panen.
Untuk mencegah hama dan penyakit pada SRI tidak digunakan bahan kimia, tetapi
dilakukan pencengahan dan apabila terjadi gangguan hama/penyakit digunakan pestisida
nabati dan atau digunakan pengendalian secara fisik dan mekanik

Perbedaan Cara SRI dengan Konvensional
Kebutuhan pupuk organik dan pestisida untuk padi organik metode SRI dapat diperoleh dengan cara
mencari dan membuatnya sendiri. Pembuatan kompos sebagai pupuk dilakukan dengan memanfaatkan
kotoran hewan, sisa tumbuhan dan sampah rumah tangga dengan menggunakan aktifator MOL
(Mikro-organisme Lokal) buatan sendiri, begitu pula dengan pestisida dicari dari tumbuhan behasiat
sebagai pengendali hama. Dengan demikian biaya yang keluarkan menjadi lebih efisien dan murah.
Penggunaan pupuk organik dari musim pertama ke musim berikutnya mengalami penurunan rata-rata
25% dari musim sebelumnya. Sedangkan pada metode konvensional pemberian pupuk anorganik dari
musim ke musim cenderung meningkat, kondisi ini akan lebih sulit bagi petani konvensional untuk
dapat meningkatkan produsi apalagi bila dihadapkan pada kelangkaan pupuk dikala musim tanam tiba.
Pemupukan dengan bahan organik dapat memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologi
tanah, sehingga pengolahan tanah untuk metode SRI menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan
pengolahan tanah yang menggunakan pupuk anorganik terus menerus kondisi tanah semakin
kehilangan bahan organik dan kondisi tanah semakin berat, mengakibatkan pengolahan semakin sulit
dan biaya akan semakin mahal.

Selasa, 03 Mei 2011

PENUNTASAN WAJAR 9 TAHUN TETAP MENJADI PRIORITAS

    Prioritas utama Kementerian Pendidikan Nasional tahun ini adalah tetap meneruskan penuntasan wajib belajar (wajar) sembilan tahun. Aksesibilitas terhadap pendidikan dasar bakal dibuka lebar. Dengan demikian.angka partisipasi Kasar (APK) anak usia SD diharapkan terus bertambah.
Penuntasan wajar sembilan tahun. menurut Mendiknas M. Nuh. merupakan bagian dari implementasi jargon kementeriannya untuk meniadakan diskriminasi pendidikan. "Semua akses untuk pendidikan akan dibuka. Pendidikan harus terbuka lebar untuk anak di daerah terpencil sekalipun. Terbuka untuk anak kurang mampu maupun anak-anak cacat," tegasnya.
Nuh menyatakan, meski wajar sembilan tahun sejatinya telah selesai akhir 2008, masih ada daerah-daerah yang belum terjangkau. Daerah-daerah itulah yang akan menjadi prioritas utama tahun ini. Misalnya. NTT, Papua, maupun daerah tertinggal lainnya.
Sebagaimana diketahui. Kementerian Pendidikan Nasional telah melampaui target yang dicanangkan dalam konferensi Dhaka tentang penuntasan wajib belajar sembilan tahun pada 2015. Yaitu, berhasil menuntaskannya pada 2008. Kendati demikian, masih ada beberapa kabupaten/kota yang APK anak usia SD-nya masih kurang dari 90 persen.
Dirjen Mendikdasmen Suyanto menuturkan, biaya operasional sekolah (BOS) masih menjadi andalan untuk merealisasikan wajar sembilan tahun. Kendati anggaran BOS tahun ini tidak naik, program tersebut dinilai berhasil menekan angka putus sekolah di berbagai daerah.
Suyanto menyebutkan, nominal BOS tahun ini tetap sama. Hanya sasarannya yang bertambah. Sasaran BOS untuk siswa SD adalah menjangkau 27.6 juta anak. Jumlah tersebut naik daripada tahun lalu 27,1 juta siswa. Demikian pula, sasaran untuk siswa SMP bertambah dari 9,4 juta siswa menjadi 9,6 juta. "Kami terus menjangkau anak-anak kurang mampu." terang pejabat asal Ngawi itu.
Bukan hanya BOS. Pemerintah, kata Suyanto, juga memberi dana pendampingan. Yaitu, beasiswa bagi siswa kurang mampu. Sasarannya adalah 1,7 juta siswa SD; SMP (751.193); SMA (248.124); SMK (305.535); dan perguruan tinggi (635.901).
"Dari tahun ke tahun, beasiswa yang kami berikan terus dinaikkan. Intervensi ini amat membantu menekan angka putus sekolah ."tuturnya. Suyanto menengarai angka putus sekolah di Indonesia hanya 500 ribu anak. Dia menuturkan, saat ini beberapa daerah mengejar pencapaian wajar 12 tahun. Misalnya, Jawa Timur. Jawa Barat, DIJ, DKI Jakarta, serta Kalimantan Timur. "Itu merupakan target yang baik. Tapi, saya mengimbau yang belum tuntas sembilan tahun diselesaikan dulu. Sebab, penuntasan program ini merupakan pemenuhan hak bagi masyarakat," ujarnya, (kit/iro)
SUMBER : http://bataviase.co.id/detailberita-10524275.html